Karunia Alam Nusantara

Indonesia... Bumi Nusantara... Bumi penuh dengan karuria yang tiada terhingga.

Keindahan Pantai

Salah satu karunia di Bumi Nusantara adalah keindahan pantainya. Selalu mampu membuat kita ceria meskipun terik matahari menyengat kepala.

Hamparan Sawah

Sawah yang terhampar luas di Bumi Nusantara adalah aset yang sangat berharga. Apakah akan kita biarkan anak cucu bangsa kita, nanti, tidak lagi bisa melihatnya?

Merah Putih Terus Berkibar

Tetaplah bersemangat membangun bangsa. Meski mendung selalu menyelimuti kehidupan kita, jagalah agar Merah Putih Terus Berkibar. Jangan biarkan Merah Putih berkibar setengah tiang. Apalagi diturunkan dari tiang.

Hijau Pucuk Daun

Lihatlah ! Bahkan hijaunya pucuk dedaunan di Bumi Nusantara, mampu menyejukkan pandangan mata. Apakah kita akan selalu menatap dan meratap tanpa melakukan apa-apa?

Tampilkan postingan dengan label Novel Alexia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel Alexia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 November 2012

Berita Dari Fadhil



SUARA MOTOR, TERDENGAR OLEHKU. Tepat di depan rumahku, suara keras itu menghilang.
Dari suara knalpot-nya yang nge-rock abis, alias amat sangat keras dan memekakkan telinga, aku tahu, pagi itu Fadhil yang datang kerumahku.
Dan ternyata, benarlah ia yang datang. Setelah terdengar menyapa dan berbicara beberapa menit dengan ibuku yang kebetulan sedang ada di teras, Fadhil masuk kerumah. Tanpa canggung-canggung, ia langsung menghampiri aku dikamarku.

Catatan Pagi Delapan Juli


PAGI YANG INDAH. Hari telah berganti menjadi hari Minggu, tanggal 8 Juli 2001. Kulihat, saat itu masih jam lima pagi. Setengah jam sebelumnya aku sudah terbangun.
Setelah pergi sholat subuh berjamaah di masjid bersama Najmuddin, aku kembali ke kamarku. Begitu juga adikku, ia kembali masuk ke kamarnya.
Sesampainya di dalam kamarku, pagi itu aku mulai merenungi diriku sendiri.

Engkau Berada Dimana ?




AKU SEDANG BERADA DI KAMARKU. Malam minggu tanggal 7 Juli 2001.
Sabtu sore itu, selepas isya, Fadhil bertamu kerumahku. Setelah terdengar menyapa ibu yang sedang nonton TV di ruang keluarga, ia langsung masuk ke kamarku.
”Serius banget, Fif? Sedang apa kamu?”, tanya Fadhil saat ia menaruh tasnya di tempat tidurku.
”Ada yang nggak beres dengan komputerku”, jawabku sambil terus memperhatikan komputerku. Komputer, yang sehari-hari, sebenarnya berada di kamar kostku, di Jogja. Komputer itu, siang hari sebelumnya, kuboyong ke Kediri.

  :::  K O L E K S I     F O T O  :::
     
   
 
Dimar Reva Dila ®
 
  :::   Tengah    :::
     
 
 
 
Dimar Reva Dila ®